Mushaf Al-Qur'an
Manhaj qira’at (metode atau variasi bacaan Al-Qur’an)
Istilah mushaf Utsmani sudah tidak asing di telinga umat Islam. Khalifah Utsman menginstruksikan agar penyalinan tersebut harus berpedoman kepada bacaan mereka yang menghafalkan Alquran. Seandainya terdapat perbedaan dalam pembacaan, yang ditulis adalah yang berdialek Quraisy. Sebab, Alquran diturunkan dalam bahasa Quraisy yang merupakan bahasa yang paling mulia, bahasa yang digunakan oleh Rasulullah SAW, bahasa yang paling tinggi kedudukan tata bahasanya. 4 naskah dibawa ke Makkah, Suriah, Basra, dan Kufah. Sementara, 1 naskah lagi tetap berada di Madinah yang disebut mushaf Al-Imam. Tujuan awal pengumpulan Alquran tersebut, yaitu untuk mempersatukan semua umat Islam yang sempat terpecah karena adanya perbedaan dalam pembacaan Alquran. Khalifah Utsman juga memerintahkan kepada semua gubernurnya untuk segera menghancurkan semua mushaf yang ada di tengah masyarakat dan digantikan dengan mushaf yang kini disebut mushaf Utsmani tersebut. Sejak saat itu, kaum Muslimin bersatu di atas 1 mushaf Utsmani yang dirumuskan dengan nukilan yang mutawatir, sehingga tidak ada perbedaan atau perselisihan sedikit pun dalam nukilan tersebut. Mushaf Alquran yang disebut sebagai mushaf Utsmani akan tetap terpelihara di atas pemeliharaan Allah SWT.
Pada masa itu, mushaf masih gundul, tidak berharakat atau tidak terdapat tanda baca. Untuk menghindarkan dari kesalahan baca, lalu dirumuskan tanda harakat dan titik pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Inilah yang membedakan kitab suci Islam dengan miliknya Kristen. Pada Bible ibrani, selalu disertai versi bacaan footnote atau "appatus criticus" . hal yang sama juga ditemui di New Testament/Perjanjian Baru teks Yunani yang juga menampilkan bacaan footnote appatus criticus.
Jadi, varian bacaan berupa "apparatus criticus" pada penerbitan Bible Hebrew maupun PB yang terletak pada footnote merupakan fakta tekstual adanya pengakuan tentang "human error" dalam penyalinan teksnya.
Pada Kenyataannya Quran tidak mengenal adanya varian bacaan yang dianggap salah ataupun varian bacaan yang diduga benar. Itulah sebabnya sejak dulu hingga sekarang, cetakan-cetakan Quran tdk mengenal adanya footnote atau "appatus criticus."
Sebaliknya, meskipun ditemukan adanya varian bacaan pada teks Quran, tetapi varian bacaan itu bukanlah "human error" dalam penyalinan teksnya, namun sebatas khasanah qira'at saja.
Pada masa Nabi, para sahabat menerima bacaan Qur'an secara langsung dari beliau dan serius khidmat mempelajarinya dengan versi bacaan qira'atnya. Lahirlah ahli qira'at pada saat itu, seperti ; (1) Ubay bin Ka'ab. (2) Abdullah bin Mas'ud. (3) Abu Darda. (4) Utsman bin Affan. (5) Ali bin Abi Thalib. (6) Abu Musa Al-Asy'ary. (7) Zaid bin Tsabit.
Setelah Nabi wafat, para sahabat banyak yang berpencar hijrah ke berbagai negara, seperti Abi Darda yang ke syam, dan Ibnu Mas'ud yang ke Kufah. Dari generasi sahabat kemudian menurun ke generasi Tabi'in. Dan muncullah mereka yang disebut "Qira'at Sab'ah" .
1. Imam Ibnu Amir, mendapat qira'at dari Utsman bin Affan.
2. Imam Abu Amir, dari Ubay bin Ka'ab dan Umar bin Khathab.
3. Imam Ibnu Katsir, dari Ubay bin Ka'ab dan Umar bin Khathab.
4. Imam Hamzah, dari Abdullah bin Mas'ud.
5. Imam Nafi', dari Abdurrahman bin Hurmuz.
6. Imam Al-Kisa'i, dari Imam Hamzah.
7. Imam 'Ashim, dari Abdullah bin Mas'ud, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit.
Warisan ilmu qira'at itu bukan hasil ijtihad, tapi berdasarkan pengajaran langsung yang mutawatir dari generasi sahabat dari sumbernya langsung Nabi Muhammad SAW.
Imam 'Ashim punya 2 murid/perawi qira'at, yaitu Syu’bah bin Ayyasy (kuniyahnya Abu Bakar) dan Hafs bin Sulaiman (kuniyahnya Abu Umar).
Imam 'Ashim adalah ayah tiri Hafs, karenanya ia di didik secara intens, baik secara talqin (dibacakan kemudian ditiru) mapun secara tasmi’ (memperdengarkan bacaannya).
Imam Hafs pernah bertanya kepada Imam Ashim. Ia guru sekaligus ayah tirinya: “Kenapa bacaan Syu’bah berbeda dengan bacaan saya? Imam Ashim menjawab: “Bacaan yang kamu pelajari seperti yang saya pelajari dari Abdurrahman al-Sullami yang transmisi sanadnya sampai pada Sayyidina Ali. Sedangkan saya mengajarkan kepada Syu’bah sebagaimana yang saya pelajari dari Zir bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud.”
Murid-murid Imam Hafs sangat banyak karena beliau pernah singgah di 2 negara dan mengajar disana.
Pada masa sekarang, lebih banyak dikenal 2 mushaf Qur'an berdasarkan qira'at Imam Nafi' (Warsy) dan qira'at Imam 'Ashim (Hafsh). Dari "qir'at Sab'ah" hanya ada 4 yang sering qira'atnya digunakan umat islam, (1) Imam Nafi' . (2) Imam Abu Amr. (3) Imam 'Ashim. (4) Imam ibnu Amr.
Dan pada perkembangan selanjutnya menyisakan, 2 tipe bacaan/qira'at mushaf, disebut mushaf Hafsh (imam 'Ashim) dan Mushaf Warsh (imam Nafi')
Perbedaan kedua mushaf ini berkisar pada 2 hal, yakni cara membaca dan sistem penulisan. sistematika penulisan Mushaf Warsy menggunakan sistem mahgribi, yang selama ini banyak digunakan di Maroko, Aljazair, Sinegal, Nigeria, Mauritania, Mali, Libya, dan Tunisia. Sementara Mushaf Hafs memakai sistem masyriqi yang dianut mayoritas dunia, termasuk Indonesia.
Salah satu contoh perbedaannya, dalam sistem maghribi huruf fa (ف) ditulis dengan titik di bawah. Begitu pula dengan penulisan huruf qaf (ق), yang ditulis dengan titik satu di atas sehingga menyerupai fa dalam sistem penulisan yang berlaku di Indonesia. Akibat sistematikan penulisan ini, maka lafaz yuqimuna akan terbaca yufimuna jika dibaca menggunakan sistem masyriqi. Keunikan dalam sistem penulisan maghribi juga terlihat saat huruf nun (ن) qaf, fa, dan ya (ي) berada di akhir ayat, yang dalam penulisannya tidak menggunakan titik. Dalam huruf pun ada beberapa perbedaan. Sehingga orang yang tidak mengerti qiraat tidak akan bisa membaca mushaf tersebut. Akan tetapi, secara substansial keduanya sama benarnya.
Komentar
Posting Komentar